Rekontruksi Makna “institusi Budaya”

June 9th, 2007 by kebunkopiart

REKONTRUKSI MAKNA  "INSTITUSI BUDAYA"

                            Oleh: Happy Hendrawan

821464632m Akhir-akhir ini kembali muncul diskursus tentang pentingnya pembangunan nasional. Namun di antara penggiat kebudayaan, belum ada persepsi yang sama mengenai siapa yang berhak mengurus kebudayaan. Banyak pihak tidak sepakat dengan keterlibatan pemerintah ikut campur terlalu jauh mengurusi soal kebudayaan dengan bentuk kelembagaan. Secara umum di setiap daerah memiliki lembaga yang bernama Dewan Kesenian. Sementara di banyak propinsi ada lembaga yang bernama Taman Budaya. Bagi mereka yang setuju, argumentasi di alaskan lebih pada persoalan-persoalan yang pragmatis semata.

Kredo utama para pihak yang tidak sepakat pemerintah mengurusi kebudayaan lebih didasari oleh keyakinan bahwa bila pemerintah mengurus kebudayaan, maka yang terjadi adalah menyempitnya ruang kreatif masyarakat, terjadinya penaklukan daya kultural masyarakat oleh penguasa, dan misrepresentasi nilai budaya akibat hasil produksi budaya oleh kekuasaan. Ini sebenarnya senada dengan apa yang pernah didengungkan oleh Ignas Kleden dekade 1980-an yang menyatakan bahwa struktur (politik) telah mengalahkan kultur (masyarakat) pada saat pemerintah Orde Baru (Orba) berkuasa.

Terlepas dari sikap tersebut, fakta di lapangan dalam implementasi penyelenggaraan lembaga kebudayaan/kesenian di Kalimantan Barat, tidak menampakkan wajah yang kongkrit. Jika tida dapat disebut tidak jelas. Ketidak jelasan terjadi bukan hanya akibat konsepsi kelembagaan yang lemah, tetapi juga diperparah oleh visi dan kapasitas penyelenggara yang tidak jelas kriteria dan mekanisme rekruitmennya. Belum lagi ketidak jelasan posisi antara Dewan Kesenian dan Taman Budaya yang tidak memiliki garis yang jelas mengenai cakupan aktivitas selain kecendrungan project oriented belaka.

Namun demikian posisi yang mengelikan adalah tumpang tindih dan atau simpang siurnya peran Taman Budaya dan Dewan Kesenian Kalimantan Barat (DKKB). Taman budaya lalu sibuk dengan aktivitas kesenian, sedangkan Dewan Kesenian sibuk dengan dirinya sendiri. Dikatakan sibuk dengan dirinya sendiri karena jangankan aktivitas seni-budaya, orientasinya saja tidak jelas. Paling menghadiri undangan dan atau disertakan pihak pemerintah dalam even "kebudayaan" semacam pekan kebudayaan bumi khatulistiwa yang telah menjadi project tetap pemerintah daerah.

Penilaian terhadap eksistensi dan kinerja kedua lembaga yang mestinya mengelola aspirasi-aspirasi budaya dan kesenian masyarakatnya dapat dikedepankan melalui berbagai indikator yang dapat diperdebatkan. Untuk Taman Budaya dapat dikatakan selama ini beraktivitas hanya terbatas pada "lingkungan tertentu" saja. Belum lagi letak dan luasan area yang tidak lagi represantatip dan sehat bagi proses kreatif kalangan seniman dan budayawan.

Sementara (DKKB) dalam lima tahun kepengurusannya yang sedang berjalan, sama sekali tidak ada gaungnya. Lembaga yang mestinya mampu membangun citra seni-budaya justru terjerembab tak lebih menjadi lembaga formal sebagaimana layaknya instansi pemerintah yang tak tahu apa yang harus dikerjakan.

Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut, semakin jelas ketidakjelasan peran Taman Budaya dan DKKB bagi upaya akomodasi dan fasilitasi aspirasi-aspirasi seni-budaya masyarakat Kalimantan Barat (atau bahkan Pontianak). Sebab peran Taman Budaya dan DKKB bukanlah sebagai event organizer (EO) sebuah pertunjukkan atau penyewa gedung pertunjukkan. Namun hakikinya adalah sebagai lembaga yang mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia Kalimantan Barat melalui ekspresi kreatif yang memiliki jiwa.

Kedua lembaga ini mestinya memiliki aspek dinamis dari kebudayaan yang merujuk pada nilai-nilai, pandangan hidup, norma-norma, kepercayaan, dan hal-hal lainnya yang bersifat abstrak yang melalui proses reproduksi (dekontruksi dan rekontruksi) oleh masyarakat pemilik kebudayaan itu sendiri, bukan pengurusnya.

Tiga Syarat Ideal

Paling tidak bagi tercapainya pembangunan kebudayaan Kalimantan Barat secara efektif, ada tiga hal yang harus menjadi syarat pelaksanaannya.

Pertama, dari segi paradigma, penyelenggaraan dan pembangunan kebudayaan harus dilihat sebagai pembangunan harkat dan martabat manusia seutuhnya untuk pemajuan peradaban masyarakat. Kebudayaan jangan di lihat sebagai komoditi untuk dikonservasi atau komoditi untuk di jual (dieksploitasi) demi kepentingan industri pariwisata semata.

Kedua, dari segi operasional, meskipun dibutuhkan rekontruksi makna dan pemikiran kritis, Taman Budaya dan DKKB harus memposisikan diri sebagai pembina dan fasilitator yang mendorong dan memberdayakan masyarakat sebagai pelaku utama dalam berkesenian dan pembangunan kebudayaan.

Ketiga, dari segi sumber daya manusia (SDM), harus ada kriteria dan mekanisme yang lebih kapabel dan transparan dalam rekruitmen dengan melibatkan banyak pihak yang peduli terhadap kesenian dan pembangunan kebudayaan baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi program kegiatannya. Antropolog dan sosiolog (jika ada) yang mendalami aspek dinamis dan segi abstrak kebudayaan, arkeolog (juga jika ada) yang lebih mendalami aspek statis dan wujud fisik kebudayaan, seniman dan budayawan yang terjun dalam dunia praktis, serta birokrat yang berpengalaman dalam memanajemen program akan memberikan gambaran yang lebih holistik dalam menyusun dan melaksanakan pembangunan kebudayaan di Kalimantan Barat.

Namun demikian, yang harus diwaspadai oleh kalangan praktisi dan pemerhati seni-budaya adalah kenyataan bahwa proses rontoknya kebudayaan masyarakat yang menyangkut kepentingan fundamental mereka justru terjadi karena perselingkuhan kuasa ekonomi dengan kuasa politik, antara modal dengan kekuasaan. Baik yang datang dari internal maupun eksternal pelaku seni-budaya sendiri. Sebab alih-alih melindungi dan mengakomodasi hak-hak ekonomi, sosial san kebudayaan masyarakat, yang terjadi justru berperan secara sempurna sebagai agen yang mengakomodasi kepentingan-kepentingan modal semata. Mau bukti? Silahkan amati secara langsung aktivitas kedua lembaga ini.

Apa Bisa Swadiri?

Tetapi sebagaimana telah disinggung diatas, menyerahkan secara utuh kepada pemerintah dan "orang-orangnya" untuk mengurusi kebudayaan adalah hal yang berbahaya. Oleh karenanya ada siasat lain yang harus dilakukan masyarakat tanpa sepenuhnya bergantung pada peran kekuasaan. Misalnya melakukan penguatan lembaga-lembaga informal masyarakat sebagai sebuah sistem dan budaya tandingan, terutama guna memainkan peran dalam melakukan terobosan bagi eksplorasi ekspresi dan jerat birokrasi kelembagaan dari kelompok-kelompok yang mengerumuninya.

Geliat dan gairah yang muncul akhir-akhir ini mendorong kita untuk boleh sedikit optimis dengan hal tersebut. Banyak sekali kelompok-kelompok dan organisasi kebudayaan yang dijalankan oleh anak-anak muda, yang menaruh minat untuk beraktifitas di luar "pakem formal". Tanpa keterlibatan instansi resmi, telah bergulir Kalimantan Festival Film, kelompok kreatif dibidang sastra, kelompok diskusi sastra, bahkan media yang sedang anda baca ini. Ini adalah perkembangan yang mengembirakan, paling tidak sebagai tandingan atas kecendrungan umum untuk membicarakan dan mereduksi kebudayaan sebagai kesenian belaka dan kesenian sebagai komoditi ekonomi semata; yang melulu berkutat pada tafsir serta kelindan estetika, sementara wacananya tak bertaji dan tak jelas manfaat sosialnya.

Kenyataan tak terbantahkan, kedua lembaga tersebut masih mengalami dis-orientasi (pelaku dan pelaksana lembaga "seni-budaya"). Pertanyaannya sekali lagi adalah apakah keberadaan Taman Budaya dan DKKB memiliki peran yang signifikan terhadap upaya memajukan harkat dan martabat seni-budaya daerah, sekaligus meningkatkan dan atau memelihara nilai-nilai norma masyarakatnya. Mengapa demikian, karena Taman Budaya dan DKKB sekarang selain miskin kreatifitas dan visi juga ternyata sekarang ini hanya memiliki roh, tetapi tidak memiliki jiwa!

(Newsletter Kebun Kopi, Edisi-4, Juni-Juli 2007)

Mencari Seni Rupa Kota

May 12th, 2007 by kebunkopiart

             " Mencari Seni Rupa Kota "

SEBUAH APRESIASI 

Kalau pemusik dikenal karyanya lewat konser, keluarnya album baru, dan lagu-lagu yang diciptakannya dipopulerkan artis terkenal. Seniman teater dikenal lewat rutinitas pementasan teater, seniman tari dan penari lewat pertunjukkan tari, seniman sastra dikenal melalui peluncuran bukunya. Maka pelukis, dikenal lewat pameran-pameran lukisan (tunggal atau bersama). Demikian halnya dengan seniman-seniman dari profesi seni rupa lainnya.

Dalam kurun waktu tujuh tahun belakangan ini, hampir setiap tahun selalu diadakan pameran lukisan. Baik yang diselenggarakan oleh institusi pemerintah maupun swasta (lembaga budaya independent, even organizer, dll). Walaupun hanya terhitung setahun sekali, namun bagi sebagian pelukis event pameran merupakan hal yang sangat ditunggu-tunggu. Maklum, sebagian besar pelukis mengandalkan pameran untuk menjual karya-karyanya. Dengan terjualnya karya maka pelukis bisa ‘hidup’ dan terus produktif berkarya.

Tetapi apakah sesederhana itu kenyataannya? Pada realita yang sebenarnya, Pontianak bukanlah Jogja, Jakarta atau Bali. Dimana dunia seni rupa sangat bergairah, dinamis dan cukup banyak menghidupi seniman-senimannya secara layak bahkan ada yang sangat berlebihan. Lalu kenapa Pontianak tidak (belum) bisa seperti Bali, contohnya, yang juga di kenal dengan masyarakat adatnya (sementara disini banyak terbentuk organisasi masyarakat adat), Walah! Maksudnya apalagi tuh?

Seni rupa Bali terkenal bukan saja di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Itu di karenakan budaya mereka yang tak lepas dari berkesenian sebagai salah satu ekspresi ritual yang erat kaitannya dengan praktek-praktek keagamaan. Spritualitas yang menjiwai setiap penduduknya hingga melahirkan energi produktifitas dalam berkarya dan semangat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. Apakah kita tidak mempunyai hal-hal tersebut diatas?

Apresiasi, adalah hal yang pertama yang menjadi perhatian kita. Bukan hanya apresiasi masyarakat secara luas tetapi juga apresiasi senimannya sendiri terhadap profesinya. Akan sangat berbeda profesi sebagai pilihan hidup dengan yang hanya sekedar hobi, mengisi waktu luang, apalagi yang hanya sekedar ikut-ikutan. Betul bahwa selama ini sudah menjadi stigma di masyarakat, profesi sebagai seniman adalah profesi kelas paling bawah. Marjinal dan minor. Tak berguna, melarat, susah, ngak bisa hidup senang, bohemian, gypsi. Benarkah demikian ? Jawaban yang paling mudah adalah dengan melihat diri kita sendiri sebagai oknum yang dimaksud. Apakah kita sudah menjalankan profesi kita dengan sebaik-baiknya.

Alasan yang kedua, adalah, Pontianak bukan kota seni dan budaya tetapi kota jasa dan perdagangan?

Alasan yang ketiga, Seni belum menjadi kebutuhan sebagaimana tren hape seken dan konter pulsa.

Alasan keempat, Senimannya ngak bisa jual karya seni karena menurut mereka karya seni ‘tak ternilai harganya’ dan bukan produk komersil yang bisa di diskon-diskon pada saat cuci gudang.

Alasan kelima (dan bukan yang terakhir), Tiadanya ruang pamer yang representatip yang bisa menampung karya lukis secara permanen dan mudah di akses masyarakat luas. Untuk alasan kelima, perlu adanya usaha untuk mewujudkan sebuah tempat atau pusat ruang pamer (bisa berupa galeri, kios-kios atau studio-studio pelukis) di tempat-tempat ramai dan strategis. Warga kota selama ini tak mengenal karya-karya pelukis kita dan lebih mudah mencitrakan sebuah lukisan dari jawa, salah satunya dikarenakan warga kota tak mendapat akses langsung untuk meng-apresiasi karya pelukis-pelukis kita.

TANYA KENAPA?

Kerja pelukis berbeda dengan bidang profesi seni lainnya. Teater,tari dan musik bekerja secara kolektif, sedangkan pelukis bekerja secara individual dengan ruang dan waktu yang fleksibel. Seorang pelukis bisa berkarya kapan dan dimana saja. Tak jarang rumah hingga kamar pribadipun dijadikan studio sekaligus ruang pamer. Hal tersebut menyebabkan mereka tidak menonjol secara profesi di masyarakat, dikarenakan sifat pekerjaannya yang cenderung tertutup (ekslusif).

Kalau bukan karena pelukisnya sendiri yang secara aktif bersosialisasi dan memperkenalkan karya-karyanya, masyarakat tidak akan tahu dan mengenal pelukis tersebut. Interaksi dengan masyarakat sangatlah penting bagi seniman, mengingat tujuan akhir sebuah karya seni adalah audiens atau apresian yaitu masyarakat.

Totalitas berkesenian menuntut pelakunya untuk dapat memenej profesionalitasnya. Pekerja seni tidak hanya berkarya untuk dirinya sendiri lalu cukup berpuas diri sambil menikmati hasil karyanya yang bertumpuk-tumpuk tersimpan di kediamannya,

Budaya dan peradaban manusia terbangun (atau tersimbolkan) oleh sumbangsih besar para seniman terhadap kemanusian. Simbol kemajuan peradaban tersebut di beberapa negara dan kota besar dapat kita lihat contohnya dalam wujud arsitektur khas bangunan, monumen-monumen, peninggalan-peningalan sejarah, adanya museum dan ikon-ikon kota yang penuh dengan sentuhan seni. Bagaimana dengan kota kita ini? Dimana kita dapat melihat karya patung? (selain patung aparat di persimpangan jalan Tanjungpura-Imam Bonjol). Apakah karena disini tidak ada seniman patung yang eksis? Atau mungkin secara artistik patung-patung tersebut belum bisa mewakili wajah kota kita (ikon)? Apalagi untuk mencari karya-karya lukis pelukis-pelukis kita. Ruang pamer yang ada (galeri/studio), baru sebatas berfungsi ganda. Toko kaca atau bingkai yang kebetulan menjual lukisan sebagai contohnya. Lukisan yang dijual pun kebanyakan didatangkan dari Jawa dan Bali. Sebagian repro hasil cetak dengan harga yang setara dengan lukisan asli.

Mencermati apresiasi masyarakat yang kurang terhadap seni rupa kita, seorang Lim Sahih (pelukis) berpendapat setidaknya ada dua alasan, yang pertama, tiadanya wadah berupa bangunan yang diperuntukkan bagi para pelukis untuk berkumpul dan pajang karya. Dan alasan yang kedua menurutnya adalah mungkin juga salah pelukisnya yang enggan menunjukkan keberadaanya dikarenakan oleh kondisi sistem yang ada kurang kondusif.

Ketika ditanyakan, yang dimaksudkannya dengan "sistem yang kurang kondusif", bung sahih (sapaan akrab Lim Sahih) dengan agak segan dan terkesan serba salah mengungkapkan bahwa lembaga yang terkait dengan pembinaan kesenian kurang optimal dalam fungsi dan kerjanya. Hal ini membuat para pekerja seni sering merasa "patah hati" dan tak mau lagi bekerjasama dengan pihak yang terkait tersebut.

Geliat Komunitas

Kegelisahan yang kerap kali muncul dibenak kita adalah dimanakah "penanda" seni rupa kita itu? Silang sengkarut permasalahan realita di atas, dari minimnya apresiasi, SDM, hingga manajemen kesenian, bisa jadi "penanda" itu sendiri. Khas permasalahan lokalitas (kedaerahan) lengkap dengan ketertinggalan dan keterbelakangannya akibat penjajahan sentralistik terhadap otonomi daerah!

Beberapa waktu lalu sempat muncul riak-riak kegairahan yang mengusung label komunitas. Dengan gelaran pamerannya yang bertajuk "Isi Kepala", mencoba memberi warna baru paradigma wacana pemajuan seni rupa kota. Menampilkan karya-karya kontemporer seni lukis, instalasi dan fotografi. Namun akhir tahun 2005 tersebut ternyata belum secara signifikan mempengaruhi geliat keseni-rupaan kita. Kenapa? Karena geliat komunitas-komunitas itu belum ditindak lanjuti dengan aksi-aksi (pameran) selanjutnya sampai sekarang.

Tiadanya pengaruh yang signifikan itu diakui juga oleh Jayus Agustono, seorang perupa nyentrik yang selalu menampilkan simbolisasi pesan di dalam setiap karya-karyanya. Menurut salah satu pentolan Komunitas Sanggar Seni Rupa Nuansa (Nuansa Eseser) ini, pengaruh atau kemajuan seni rupa kita sebenarnya tergantung kepada person-personnya. Apakah pendapat ini juga "simbol" pesannya bahwa perupa-perupa kita masih berjalan sendiri-sendiri? (#Ri-KK#)

(Newsletter Kebun Kopi, Edisi-3, April-Mei 2007)

Makna KOPI bagi Kebun Kopi

February 5th, 2007 by kebunkopiart

Makna KOPI bagi Kebun Kopi

Segelas kopi memberiku banyak inspirasi

Segelas kopi membuat kami bersaudara

Segelas kopi membuat kami satu

Punya Tekad Majukan Kesenian Kalbar

January 17th, 2007 by kebunkopiart
  • Kebun Kopi, Komunitas Pecinta Seni

Punya Tekad Majukan Kesenian Kalbar

Awalnya dari segelas kopi, ngobrol bareng di warung kopi, mereka saling berinteraksi dan berekspresi. Dari sini muncullah Komunitas Pecinta Seni atau disingkat Kebun Kopi. Kebun Kopi merupakan tempat gaul dan kongkow sesama pekerja seni maupun bukan pekerja seni yang mempunyai kebutuhan dan ketertarikan yang sama akan kesenian. Dapat bergaul secara sukarela, berekspresi untuk memajukan kesenian.

oleh: Budianto, Pontianak

Kebun Kopi !

Mendengar namanya, pasti kita akan terbayang sebuah kebun yang berisikan tanaman Kopi yang luas. Namun tak begitu, para seniman kota ini mengambil nama tersebut untuk menggambarkan sebuah komunitas para pecinta seni. Sekilas memang tak begitu nyambung dengan sebutan untuk sebuah komunitas pecinta seni. Tapi itulah, Kebun Kopi kini menjadi wadah kreasi para seniman muda kota ini, yang memiliki visi dan misi sama untuk membangun dan memajukan kesenian Kalbar.

Kami terbentuk pada 10 Juli 2006 lalu. Awalnya sih karena sering ngobrol bareng dengan para seniman di warung kopi gajahmada. Untuk lebih mencari dan mewadahi kegiatan positif para seniman, kami sepakat untuk membentuk Kebun Kopi," kata Ketua Sanggar Kebun Kopi Herfin Yulianto, SE,   didampingi Cecep selaku Humas kepada Pontianak Post, kemarin.

Debut pertama yang dilakukan sanggar tersebut yakni membuat pameran lukisan yang dilaksanakan di Dept Store Matahari A yani Mega Mall, 1-5 September lalu. Pameran lukisan yang bertemakan "Between Fashion" tersebut di ikuti 25 pelukis terbaik Kalbar. Mereka menampilkan karya mereka dengan berbagai gaya lukisan. Pameran tersebut kami anggap cukup berhasil sebab, mendapat minat yang luar biasa dari masyarakat kota ini, kata Herfin.

Meskipun baru seumur jagung, Kebun Kopi terus berusaha memajukan dan mengenalkan sanggar mereka kepada masyarakat daerah ini. Mereka tak segan-segan mengajak para seniman atau yang tertarik akan seniman untuk bergabung dengan komunitas mereka.

Ditambahkan Cecep, niat Kebun Kopi memajukan kesenian di Kalbar begitu tulus. Dalam melakukan kegiatan, semisal menerbitkan newsletter mereka menggunakan dana pribadi. Dalam waktu dekat, Kebun Kopi juga memiliki niat untuk berkolaborasi memainkan alat-alat musik tradisional Dayak secara lengkap. Meskipun baru mencapai 40 % dan dengan sumber pendanaan yang minim kami tetap optimis untuk memajukan kesenian asli Kalbar ini," jelas Cecep panjang lebar sembari mengatakan Kebun Kopi juga tengah mempersiapkan pementasan akbar dengan kolaborasi berbagai karya seni para seniman Kalbar.

(Tulisan ini disadur dari Suratkabar Pontianak Post, terbitan hari Jumat tanggal 12 Januari 2007)

Memutus Kebuntuan Komunikasi Pelukis dengan Masyarakat

January 16th, 2007 by kebunkopiart

dari Pameran Lukisan "Between Fashion"

Memutus Kebuntuan Komunikasi Pelukis dengan Masyarakat

PONTIANAK- Pelukis Pontianak mulai merubah mindset-nya untuk memperkenalkan keseniannya dan mentransfer ilmunya ke masyarakat. Selama lima hari, mulai 1 September hingga kemarin (5/9), 30 lukisan bersanding dengan produk fashion. Pameran dilakukan di Matahari Dept.Store A. Yani Mega Mall.

Komunikasi antara masyarakat dan pelukis, diakui Herfin, koordinator pelaksana kegiatan, menjadi penyebab kurang apresiasinya warga Pontianak terhadap kesenian ini.

"Kadang pamerannya di tempat tertentu saja, seperti Taman Budaya atau Galeri, yang bagi masyarakat awam terlalu ‘berat’, bagi mereka untuk singgah dan menikmatinya. Nah, gaya ini yang kita ubah. Bagaimana kita bisa masuk ke tempat yang sering mereka kunjungi. Kita yang bergerak. Ini yang kita lakukan, "kata pelukis muda Pontianak yang juga memamerkan karyanya di kegiatan ini. Menurutnya, sandengan antara lukisan dan produk fashion di Mall, merupakan salah satu strategi baru yang ditempuh guna menjawab kebuntuan permasalahan komunikasi antara Pelukis dan Masyarakat. Terutama generasi muda. "Kalau ditempat ini kan, masyarakat yang berkunjung heterogen. Nah, transfer ilmunya bisa nyambung. Ini yang kita inginkan, "katanya.

Pameran Lukisan yang merupakan salah satu bagian dari kegiatan ‘Geliat Seni Kalbar’ ini di ikuti 20 pelukis muda Pontianak dengan beragam aliran. Mereka diantaranya Kekes (Ada Apa Denganmu), Rully Iswanto (Amazing!!!), Jayus (Jangan Terbujuk Rayu si Hidung Belang), Kurniawan (Kupu-Kupu), Yudi (Habitat Arwana), dan Wawan (Mandi di Paret). Beberapa diantara lukisan yang dipamerkan juga laku terjual.

Di arena tersebut, pengunjung juga bisa dibuatkan lukisan sketsa wajah oleh pelukis Yudi. Bagian dari stan ini tak kalah menarik perhatian pengunjung mal yang tujuan utamanya berbelanja dan cuci mata.

Sebuah terobosan baru pelukis Pontianak untuk memperkenalkan karya seni terhadap masyarakat Pontianak yang semakin modern seperti saat ini. (zan)

(Tulisan ini disadur dari SuratKabar Pontianak Post, terbitan hari Rabu tanggal 5 September 2006)

Program Kebun kopi

December 12th, 2006 by kebunkopiart

Program Kebun kopi

  • Pameran lukisan " Between Fashion "                            

waktu pelaksanaan  tgl 1-5 September 2006. di Matahari A. Yani Mega Mall Pontianak Kalimantan Barat. di ikuti 23 pelukis Pontianak antara lain: Ali fs, Eva Susanti, Gunawan, Joko, Haris, Hendry, Herfin,  Herly Gaya, Iyan, Imam, Iwan Nambong, Jayus Agustono, Kekes, Kurniawan, Lim Sahih, Panca Espi, Parjio, Rudy Asbun, Rul Iswan, Wayan, Wawan Hadari, Yudi Purbaya, Zul ms. menampilkan karyanya dengan berbagai gaya lukisan.

Kebun_kopi_06@yahoo.com

  • Newsletter Kebun kopi

Kami telah dua kali menerbitkan edisi newsletter, dengan jumlah delapan halaman, cetak hitam putih aja. sebentar lagi akan terbit edisi  ketiganya loh, kami distribusikan secara gratis, dapatkan newsletter tersebut di distro-distro (distribusi outlet) kami.

dapatkan di tujuh distro newsletter kebun kopi:

- kios majalah matra, jl. patimura no.9 kompleks kios PSP, cp.aleng hp.08125734871.

- galeri aura, jl. pangeran natakusuma, depan kantor camat sumur bor, cp. wawan hp.085245099009.

- komunitas teater komsan, jl. suprapto, kampus stain, cp. daeng hp.05617092566.

- cafe wapres, jl. a. yani, komplek taman budaya pontianak, cp. mugi hp.081649185482

- distro blindfold, jl. a. yani, komplek untan, cp. zul hp 085245382818

- kios sangap encari, aula kedatangan bandara supadio, samping atm mandiri

- tamasya tour, jl. martadinata no.12 telp 777889

Kebun_kopi_06@yahoo.com

  • Persiapan peralatan musik tradisional Dayak       

Keinginan kami untuk memainkan alat-alat musik tradisi khususnya dayak sangatlah besar. kami ingin alat musik tersebut dimainkan sesara lengkap dan bersama seperti pada musik gamelan, angklung atau alat musik lainya. pada alat musik tradisi dayak jarang terjadi di mainkan secara lengkap apalagi di daerah perkotaan yang lebih banyak mengusung alat musik modern seperti band misalnya. kelangkaan tersedianya alat musik tradisi dayak, kelangkaan pembuat alat musik. kelangkaan bahan baku. kendala-kendala itu tak menyurutkan kami untuk mewujudkan impian tersebut. langkah-langkah telah kami ambil, kami telah mempersiapkan pengadaan alat musik tradisi dayak tersebut, walaupun baru mencapai 40 %, kami tetap optimis, walaupun dengan sumber pendanaan yang minim.

Kebun_kopi_06@yahoo.com

Apa sih kebun kopi tu?

December 11th, 2006 by kebunkopiart
  • Awalnya dari segelas kopi, ngobrol bareng  di warung kopi, dengan segelas kopi kita saling ber-interaksi dan ber-ekspresi, dari sini muncullah "Kebun kopi". Kebun kopi berarti kebun-nya komunitas pecinta seni (disingkat menjadi kopi), tempat gaul dan kongkow sesama kita pekerja seni maupun bukan pekerja seni yang mempunyai kebutuhan dan ketertarikan yang sama akan kesenian, bergaul secara sukarela, ber-ekspresi untuk kesenian.

Markas besar Kebun kopi di kota Pontianak, tepatnya ditepi jalan di jl. Martadinata no.12. Ngak susah kok mencarinya. Kalo Anda tersesat, tekan aja nomor telp 0561-7021122…dengan ramah kami memandu Anda ke kebun kami. Kami anggap Anda adalah keluarga kami yang ingin membangun secara bersama menanam bibit-bibit kesenian di kebun kita….Kebun kopi… Selamat datang….nikmati segelas kopi dari kami, kopi dengan aroma cita rasa Pontianak.

Kebun_kopi_06@yahoo.com